Romusha Sepakbola Indonesia
FDSInews – Klub Serie A Parma FC harus menerima nasib sial. Gara-gara terlambat membayar pajak penghasilan untuk beberapa pemainnya, lisensi klub Biru Kuning ini dicabut oleh FIGC. Banding Parma di Pengadilan Tinggi Italia pun ditolak. Alhasil, mimpi mereka untuk tampil di Liga Eropa musim depan hampir musnah.
Kasus Parma tersebut menunjukkan betapa tegasnya federasi sepakbola Italia (FIGC) terhadap kondisi finansial klub anggotanya. Bayangkan, hanya gara-gara terlambat membayar pajak saja, FIGC langsung mencabut lisensi.
Sekarang, coba bandingkan dengan PSSI. Jangankan mencabut lisensi untuk klub yang bermasalah, PSSI malah meloloskan klub-klub yang tidak punya persiapan, sarana dan finansial yang mencukupi untuk ikut kompetisi. Akibatnya bisa ditebak, lagi-lagi pemain yang menjadi korban.
Tidak hanya satu atau dua klub saja yang bermasalah secara finansial, banyak klub yang dilanda krisis keuangan. Entah itu dari ISL, Divisi Utama, maupun divisi dibawahnya lagi. Kasus yang terbaru adalah ketika pemain Persiraja Akli Fairus meninggal dunia.
Setelah ditelusuri, Akli Fairus malah belum diberikan hak gajinya oleh Persiraja. Bahkan, hasil tim investigasi PSSI menyatakan, sesungguhnya Persiraja tidak siap untuk ikut kompetisi.
Lantas, mengapa ketidaksiapan itu baru dinyatakan sekarang, setelah klub ikut kompetisi beberapa lama? Apa gunanya dulu verifikasi yang digembar-gemborkan PSSI, bisa meminimalisir terulangnya kasus tunggakan gaji pemain?
Tidak adanya tindakan tegas dari PSSI membuat klub-klub seolah memandang enteng krisis finansial di tubuh mereka. Toh, tak ada sanksi yang mengancam dari federasi. Toh, para pemain mereka juga tidak mau protes. Toh kalau pemain hengkang, lisensi klub bisa dijual ke pihak lain.
Parahnya, hal ini juga didukung oleh sikap dari para pemain, yang terkesan ikut membiarkan. Para pemain yang gajinya belum dibayarkan berbulan-bulan, tidak mau bicara banyak ke pihak luar. Dengan alasan takut nanti tidak dipakai oleh klub. Atau dengan alasan yang lebih “lucu”, karena loyalitas pada klub. Para pemain tersebut seakan rela menjadi Romusha sepakbola Indonesia. Bermain tanpa perlu digaji.
Terlalu banyak pembiaran yang berlarut-larut inilah yang membuat krisis finansial di sebuah klub di Indonesia menjadi permakluman tersendiri. Imbasnya, kompetisi sepakbola Indonesia tidak bisa berprestasi dan berbicara banyak di dunia internasional.
(hmm)







