Pemain Sepakbola Bukan Budak Pengurus Klub

Pada 20 May 2014 10:26 WIB

Oleh: Ayah Ipunk

 

Melihat dari beberapa kejadian di Liga Indonesia masih banyak pesepakbola di Indonesia yang menyepelekan kontrak.  Mereka hanya melihat nominalnya saja tanpa mengerti detail kontrak itu bagaimana
dan pasal-pasalnya tidak dilihat padahal itu yang paling penting. Jika pemain tidak cermat memahami isi kontrak maka pihak lain akan memanfaatkan celah tersebut .
Akibatnya, para pemain berada di posisi yang sulit saat berhadapan dengan klub, misalnya ketika ingin menuntut hak. Klub dapat dengan mudah mengelak dan mengambil celah dari isi perjanjian kontrak karena tidak detail.

Contoh kalau di Eropa, isi kontrak bisa begitu njlimet bin mumet karena berisi hal-hal yang sangat detail,
seperti:
– bonus setelah si pemain mencetak sekian gol atau tampil sekian kali
– persentase uang yang didapat pemain dari hasil penjualan jersey-nya, dan lain-lain.
Karena banyaknya poin yang bisa tercakup dalam kontrak, terkadang proses negosiasi bisa memakan waktu yang lama. Pihak klub dan si pemain tentu sama-sama ingin diuntungkan. Setelah tercapai win-win solution,
kesepakatan tercapai, lalu kontrak ditandatangani.

Terus kalau salah satu pihak melanggar bagaimana?
Tinggal kembali ke isi kontrak dan menjalankannya. Konsekuensinya bisa berupa denda, tuntutan hukum, bahkan sampai pemutusan kontrak secara sepihak.Tergantung kesepakatan di kontrak tersebut.

Tapi di sini di negara Preman ini… meski liga yang di gembar gemborkan sebagai liga profesional, pola pikir pihak klub dan pemain belum 100 % profesional.
Dalam sebuah kontrak, pemain akan mengalami dua situasi yang kadang-kadang membuat pemain tersebut terbuai.

-Pertama, ketika pemain dalam keadaaan tertekan ketika dia menandatangani kontrak. Tertekan di sini adalah
ketika pemain ditawari kontrak, manajemen berkata “oke sekarang teken kontrak. Kalau tidak sekarang besok saya cari pemain lain”.
Maka di sini pemain tidak mempunyai waktu untuk membaca dan mengerti apa saja yang ada dalam kontrak.
Situasi seperti ini biasanya akan membuat kontrak merugikan pemain
-Kedua ketika seorang pemain merasa terlalu nyaman dengan situasi tim dan merasa sangat memiliki tim, tidak akan berpikir terlalu jauh akan terjadi masalah dan situasi ini di manfaatkan pihak klub karena keterikatan pemain dan klub itu sendiri

pemain-pemain yang dilanggar haknya oleh klub seolah-olah hanya pasrah dan tak berdaya. Sebagai contoh kasus paling gampang adalah penunggakan gaji oleh berbagai klub di Indonesia. Jangankan menuntut lewat jalur hukum, mengungkapkannya di media saja hanya beberapa yang berani.

Sekalinya di ungkap ke Media dan demo malah kena sanksi dari PSSI dalam hal ini Komdis. Seharusnya PSSI bisa membantu para pemain sepakbola untuk menerima hak-haknya sebagai pemain profesional. Pihak APPI (Asosiasi Pemain Profesional Indonesia) sebagai wadah para pemain Pro juga belum bisa berbuat banyak dalam hal ini.

Bahkan baru-baru ini ada pengurus klub yang tidak mau bertanggung jawab membayar gaji pemain sampai pemain nya meninggal dunia.

Sebagai informasi :
*Standar minimum kontrak pesepak bola di manapun sudah diatur dalam aturan asosiasi federasi sepakbola internasional (FIFA) dalam FIFA Letter 1171. Di poin itu disebutkan bahwa pesepak bola harus mendapatkan rangkap dari kontrak.
*Sedangkan untuk aturan nasional, payung hukum standar minimum kontrak pemain ini diatur dalam UU No 3 Tahun 2005
tentang Sistem Keolahragaan Nasional dan UU No 13 Tahun 2010 tentang Ketenagakerjaan.

Untuk itu salah satu cara pembenahan sepakbola Indonesia agar maju dan profesional bisa dilakukan lewat pematuhan kontrak baik oleh pemain maupun klub…

Jika Situasi ini masih belum bisa di atasi PSSI dan PT LI bukan hal yang mustahil ISL 2014 akan melahirkan kluub-klub yang menunggak gaji pemain untuk kesekian kalinya.

 

IP

Komentar Pengunjung

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com