Kelamnya Perwasitan Indonesia

Pada 16 May 2014 15:34 WIB
Prev3 of 3Next

Kualitas Wasit Yang Rendah dan Indikasi Match Fixing

Kinerja wasit yang sangat buruk ini tidak terlepas dari buruknya kualitas wasit yang memimpin Liga Indonesia.  Peunjukan wasit yang dilakukan oleh PT Liga Indonesia yang terkesan asal-asalan serta kurang adanya pelatihan wasit.

Disamping kualitas wasit yang rendah, suap – menyuap pun kerap terjadi.
Sudah menjadi ” Rahasia Umum” wasit kerap memihak tuan rumah, klub yang membayar lebih atau klub yang punya hubungan “intim” dengan elit-elit PSSI dan PT Liga.

Hal  itu terkadang disebabkan gaji wasit yang rendah,  hal tersebut terkadang mendorong wasit menerima suap.

1
(foto ilustrasi skandal suap wasit)

Pada kisaran tahun 2000 lalu,  indikasi match fixing menyeruak, manajer PSIS Simon Legiman mengaku menyuap wasit Muchlis saat pertandingan Arema Indonesia bukan Arema Cronus  versus PSIS pada Liga Indonesia VI.

Simon menuturkan bahwa, inisiatif kecurangan itu justru datang dari wasit Muchlis itu sendiri.

“Dalam perjanjian, Muchlis meminta Rp3 juta jika seri dan Rp5 juta apabila PSIS menang,” ujar Simon,  sepertiyang dilansir  Suara Merdeka edisi 29 Mei 2000 lalu.

Simon bersedia menyuap Muchlis, mengingat posisi PSIS yang ada di jurang degradasi. Ternyata saat pertandingan, Muchlis justru banyak merugikan PSIS hingga akhirnya kalah 2-3 dari tuan rumah. Simon yang sudah memberi uang muka Rp1 juta pun berang dan “bernyanyi” di hadapan wartawan.

Hingga kini persoalan seperti ini masih kerap muncul. Komite Wasit sendiri mengelak jika nilai gaji yang terlalu rendah menjadi penyebab. “Gaji wasit Rp5 juta per pertandingan merupakan yang tertinggi di Asia Tenggara,” ujar Roberto Rouw, ketua Komite Wasit PSSI.

(FS)

Prev3 of 3Next

Komentar Pengunjung

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com