Ironi Sepakbola Indonesia

Pada 30 May 2014 22:41 WIB

Oleh: Arief Hakiem

“MENUJU PENTAS DUNIA”, itulah slogan yang didengungkan ketika pertama kali kompetisi Liga Indonesia pertama kali digelar. Kompetisi yang merupakan penggabungan (paksa) dua kompetisi yaitu kompetisi perserikatan (amatir) dan GALATAMA (semi profesional), sedari awal memang digadang gadang bukan hanya akan mengangkat prestasi sepakbola Indonesia, melainkan juga merupakan bentuk kompetisi sepakbola yang akan bergerak menuju ke arah profesional seperti yang waktu itu bergulir di negara negara elit sepakbola.

Namun lain slogan lain tujuan lain pula realisasinya. Dalam perjalanan dan perkembangannya, kompetisi Liga Indonesia yang sempat beberapa kali berganti “judul” sesuai sponsor utama yang menangani, jauh dari harapan yang dicanangkan semula. Kompetisi yang semula diharapkan bisa mendongkrak prestasi baik secara klub peserta maupun Tim Nasional berjalan dengan banyak aspek yang dipaksakan.

Dari sisi klub, banyak klub yang masih saja mengandalkan anggaran pemerintah daerah (APBD) sebagai nafas klub. Kualitas wasit pun jauh dari harapan, sampai pernah terkuak skandal wasit yang sangat memalukan. Pengelola kompetisi maupun pengurus klub seringkali justru bukanlah orang yang ahli di bidangnya, terbukti dari banyaknya “pemilik” klub yang merupakan kepala daerah klub bersangkutan.

Prestasi..??????? SANGAT MEMPRIHATINKAN. Dari segi klub, juara Liga Indonesia hampir pasti selalu jadi bulan bulanan ketika berkompetisi di tingkat asia, terlebih jika bertemu klub klub dari asia timur maupun asia barat.Di level Timnas pun, prestasinya juga jauh dari harapan. Di level ASEAN Timnas Indonesia hanya mampu 4 kali runner up piala AFF dan 3 kali runner up Sea Games tanpa satupun gelar juara.

Dari sini jelas terlihat, bahwa kompetisi Liga Indonesia disetting bukan untuk profesionalisme maupun prestasi, melainkan hanya sekedar untuk hiburan dan hura hura di stadion. Karena dari sisi animo publik, sepakbola Indonesia bisa dibilang ada di jajaran atas. Selain jumlah penduduk yang memang besar, minat publik untuk  menonton pertandingan sepakbola memamng lumayan besar. Hampir tiap klub punya basis suporter dalam jumlah besar. Seorang Tommy Welly yang merupakan komentator ternama bahkan pernah dengan pede-nya menyatakan bahwa liga Indonesia adalah Liga Inggrisnya asia,, dilihat dari animo publik terhadap perhelatan ini.

Sayangnya,, modal besar berupa animo publik yang secara langsung adalah market yang menggiurkan tidak dimanfaatkan dengan baik. Berbagai upaya telah dilakukan salah satunya dengan merombak kompetisi sekaligus nama menjadi Indonesia Super League. Penggunaan nama ISL diharapkan akan lebih menjual, dan juga akan menerapkan aturan dan seleksi yang lebih ketat, sesuai standar yang ditetapkan AFC/FIFA mengenai persyaratan klub sepakbola profesional meliputi 5 aspek yaitu support (pembinaan usia dini), infrastuktur (fasilitas stadion, tempat latihan), legal (mengnai hukum seperti legalitas), finance (kekuatan keuangan klub) dan persone (management) agar kompetisi bisa berjalan secara BERSIH, SEHAT dan BERKUALITAS.

Namun sekali lagi, program yang semestinya baik ternyata tidak dilaksanakan sebagaimana mestinya. Banyak kriteria yang sebenarnya mutlak dimiliki oleh klub peserta ternyata tidak dapat dipenuhi dan tetap diberi toleransi dengan berbagai pertimbangan, terutama mengenai finansial dan infrastruktur.

Tak heran, ditengah hiruk pikuk kompetisi yang selalu ramai penonton, disiarkan di televisi hampir tiap hari, kisah kisah miris mengenai pemain terlambat menerima gaji, pemain TIDAK menerima gaji, pemain hidup seadanya di mess, bahkan sampai ada pemain yang meninggal dan baru diberi haknya pernah terjadi selama perhelatan kompetisi sepakbola Indonesia.
Hal ini diperparah dengan sikap apatis kebanyakan suporter dimana banyak dari mereka yang hanya tahu nonton di televisi maupun stadion, bersorak, bernyanyi mendukung klub kebanggaanya.Dan bagi pengelola liga sendiri, ketika pertandingan masih diminati penonton maupun suporter, mereka pun akan tetap enjoy dengan keadaan ini dan me”lupa”kan tujuan awal kompetisi, yaitu prestasi dan profesionalitas untuk MENUJU PENTAS DUNIA.

Komentar Pengunjung

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com