Tragedi Jumadi Dan Akli, Cermin Bobroknya Sepakbola Indonesia

Pada 19 May 2014 07:21 WIB

Jakarta, FDSInews – Sepakbola Indonesia kembali menorehkan sejarah kelam. Seorang pemain sepakbola Indonesia, harus meregang nyawa setelah mendapat cedera dalam sebuah pertandingan resmi kompetisi sepakbola Indonesia. Akli Fiarus, pemain Persiraja meninggal dunia usai mendapat perawatan di rumah sakit setelah dirinya diterjang dengan ganasnya oleh Agus Rohman, kiper PSAP Sigli dalam lanjutan kompetisi Divisi Utama PSSI. Tragedi Akli Fiarus ini langsung mengingatkan publik sepakbola tanah air pada kasus yang sama yang terjadi pada pemain PKT Bontang, Jumadi Abdi.

Jumadi Abdi, mantan anggota timnas SEA GAMES, Persiba Balikpapan, Pelita KS, Persikota Tangerang dan PKT Bontang harus tutup usia pada usia 26 tahun akibat cidera serius pada bagian dalam organ tubuhnya. Kejadian bermula saat PKT Bontang menjamu Persela Lamongan dalam lanjutan ISL di stadion Mulawarman 7 Maret 2009. Terjangan brutal kaki kanan gelandang Persela Deni Tarkas telak bersarang di perut Jumadi Abdi.

Sayangnya, wasit ternyata hanya menghadiahkan kartu kuning untuk insiden mengerikan tersebut meski Jumadi langsung tidak sadarkan diri dan langsung dilarikan ke Rumah Sakit. Naas, hasil observasi tim dokter menemukan robeknya bagian usus halus jumadi yang mengakibatkan kotoran hasil pencernaan makanan yang tersimpan di usus halus bocor keluar dan meracuni seluruh organ dalam. Jumadi pun menghembuskan nafas terakhirnya setelah dirawat selama 8 hari di ruang ICU.

Tragedi Jumadi pun terulang kembali pada Akli Fiarus. Penyerang Persiraja Banda Aceh ini pun harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit usai terkena tendangan kaki kiper Agus Rohman pada bagian perutnya. Saat itu, Akli sempat mencetak gol sebelum terlibat benturan dengan kiper. Namun gol Akli tersebut dianulir wasit. Akli kemudian diboyong ke luar lapangan sambil meringis kesakitan. Setelah itu, Akli tidak langsung dibawa ke rumah sakit. Ia dibiarkan meringis kesakitan di bangku cadangan. Baru pada malamnya ia diboyong ke rumah sakit Zainal Abidin Banda Aceh. Akli diduga mengalami luka dalam dan kantung kemihnya bocor. Sebelum meninggal dunia pada Jumat (16/5/2014) pukul 11.00 WIB, Akli sempat kritis.

Kekerasan demi kekerasan yang terjadi di lapangan sepakbola Indonesia ternyata berbanding terbalik dengan penegakan dan ketegasan sanksi terhadap sang pelaku. Pada kasus Jumadi Abdi, Deni Tarkas hanya mendapat hukuman 4 bulan skorsing dari komisi disiplin PSSI saat itu. Sementara itu, hingga kini PSSI belum mengambil keputusan pada Agus Rohman, kiper PSAP Sigli yang mencederai Akli Fiarus.

Lemahnya sanksi dan penegakan hukum pada pelaku kekerasan di lapangan hijau membuat pemain-pemain Indonesia rupanya tidak segan-segan memperagakan permainan keras dan kasar saat bertanding. Hingga akhirnya resiko cedera, cacat sampai meregang nyawa pun kini seakan menjadi permakluman tersendiri bagi sepakbola Indonesia.

 

(hmm)

 

Komentar Pengunjung

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com