#SOS: PT Liga Indonesia Baru (LIB) dan Perseru Langgar Regulasi

Pada 20 June 2017 13:21 WIB

fdsinews.com, Jakarta – 18 Juni 2017 – Perseru Serui telah melanggar aturan aspek lisensi klub profesional. Utamanya, terkait infrastruktur (baca: stadion). Tapi, anehnya PT Liga Indonesia Baru (LIB) selaku operator malah mengamini alias merestui. Terjadilah kejanggalan di tengah kompetisi Gojek Traveloka Liga 1 2017.

Sejak awal Stadion Marora, markas Perseru, sejatinya tidak lolos verifikasi. Banyak syarat yang tak terpenuhi. Utamanya, soal penerangan. Tapi, entah mengapa PT LIB akhirnya mengizinkan stadion yang terletak di Kabupaten Kepulauan Yapen tersebut sebagai homebase Omar Zeinedine dan kawan-kawan. Padahal, berdasarkan Regulasi Kompetisi Pasal 20 ayat 1 jelas disebutkan “Seluruh Pertandingan harus dimainkan di Stadion yang telah memenuhi kriteria sebagaimana ditetapkan oleh LIB.”

Jadilah, Persiba Balikpapan, PSM Makassar, dan Persela Lamongan harus menguras “kantong”, tenaga, dan mental untuk bertamu ke Stadion Marora. Persiba kalah 1-2, PSM menang 2-1, dan Persela Lamongan imbang 0-0. Kekonyolan terjadi di Bulan Ramadan. Maklum, selama Ramadan pertandingan harus digelar malam hari lantaran pada siang harinya mayoritas menjalankan ibadah puasa.

Semula, karena penerangan Stadion Marora tidak layak, laga kandang Perseru melawan Persija Jakarta, Minggu, 28 Mei 2017 sempat ditunda. PT LIB awalnya memutuskan akan mengalihkannya pada awal Agustus 2017. Ini sejatinya sudah sesuai dengan Regulasi Kompetisi pasal 20 ayat 3“Selama berlangsungnya Liga 1, Klub harus memainkan pertandingan kandang di Stadion yang sama dan terdaftar.” Tapi, entah mengapa pula, kebijakan itu mendadak berubah. Baik PT LIB dan Perseru telah “menistakan” Regulasi Kompetisi Liga 1 yang dibuat dan disepakati bersama.

Bagaimana tidak? Perseru melakoni laga kandang di markas lawannya. Menjamu Bali United di Stadion Kapten I Wayan Dipta, yang notabene markas “Serdadu Tridatu”. Menjamu Persija di Stadion Patriot, Bekasi yang musim ini menjadi homebase “Macan Kemayoran”. Terakhir, menjamu PS TNI di Stadion Pakansari, Cibinong, yang notabene markas tim arahan Ivan Kolev. Dan, semua berujung kepada kekalahan.

“Tuan rumah menyerahkan diri kepada tamunya. Ini mencederai azas fair play dan sportivitas kompetisi,” kata Akmal Marhali, Koordinator Save Our Soccer #SOS. “Gojek Treveloka Liga 1 2017 sudah cacat.  karena PT LIB dan Perseru telah mengamputasi regulasi yang telah dibuat dan disepakati bersama. Siapapun yang juara dan degradasi tidak bisa menghilangkan cacat ini,” Akmal menambahkan.

Sejatinya, untuk menjaga perasaan Persiba, PSM, dan Persela, atau tim lain yang nanti akan bertandang ke Stadion Marora usai lebaran, PT LIB bisa mengambil sejumlah langkah alternatif yang lebih bijaksana dan tidak “menodai” semangat kompetisi. Misalnya, mencarikan tempat netral untuk Perseru selama Ramadan atau mengambil kebijakan seperti Persipura Jayapura yang selama bulan Puasa melakoni tiga laga tandang beruntun melawan PSM, Madura United, dan Persela.  Dalam pasal 20 ayat 2 Regulasi Liga 1 disebutkan  “Stadion yang digunakan untuk Pertandingan harus dinominasikan oleh Klub melalui formulir pendaftaran dengan mempertimbangkan hasil inspeksi dan persetujuan dari LIB. LIB memiliki hak untuk menolak nominasi Stadion yang disampaikan dan meminta Klub untuk memainkan Pertandingan di stadion lain di kota yang sama atau di tempat netral (neutral venue).”

“Selama Ramadan Liga 2 libur. Banyak Stadion netral yang bisa digunakan sebagai markas Perseru seperti Stadion Manahan, Solo, Stadion Maguwoharjo, Sleman, Stadion Gelora 10 Nopember, Surabaya, atau Stadion di Kalimantan Selatan. Ini lebih adil dan fair,” kata Akmal. “PT LIB seharusnya bisa mengantisipasi masalah Perseru sejak jauh hari karena sudah terdeteksi sejak verifikasi. Mengubah laga kandang menjadi laga tandang akan lebih adil dan fair dibandingkan kebijakan melakoni laga kandang justeru di markas lawannya.”

PT LIB dan Perseru harus berpijak kepada regulasi. Pada pasal 20 ayat 5 disebutkan “Klub tidak diperbolehkan mengganti Stadion selama berlangsungnya Liga 1 kecuali terdapat hal-hal yang diluar kemampuan Klub dan mendapatkan persetujuan dari LIB.”  Nah,berdasarkan ayat 5 poin d,  PT LIB seharusnya menolak Perseru melakoni laga kandang di markas lawannya dan mencarikan stadion netral sebagai tempat evakuasi pertandingan bermasalah. “Dalam hal nominasi Stadion baru tersebut tidak disetujui oleh LIB atau Klub tidak dapat memainkan Pertandingan di Stadion yang telah didaftarkan dan tidak menominasikan Stadion lainnya, LIB akan menunjuk Stadion alternatif di tempat netral (neutral venue) dan seluruh biaya penyelenggaraan Pertandingan ditanggung oleh Klub tuan rumah.”

Bila ternyata Perseru tak mampu menominasikan stadion alternatif sebagai homebase pasal 20 ayat 8 memberikan penegasan secara gamblang: “Dalam hal Klub tidak mampu menyampaikan nominasi Stadion alternatif sesuai dengan tenggat waktu yang ditetapkan LIB atau menolak untuk bertanding di Stadion alternatif yang ditetapkan oleh LIB, maka Klub yang bersangkutan dianggap mengundurkan diri dari Liga 1 sebagaimana diatur dalam pasal 13.

“Perseru dan LIB telah melakukan pelanggaran regulasi. Pemerintah (dalam hal ini Kemenpora) lewat BOPI yang menjadi pengawas olahraga profesional seharusnya memberikan teguran keras kepada operator dan juga Perseru. Ini bagian dari cara mengawal Reformasi Tata Kelola Sepak Bola Nasional agar berjalan di rel yang sesungguhnya. Komite Disiplin, Komite Fair Play dan Tanggung Jawab Sosial serta Departemen Kepatuhan dan Integritas  juga bisa memberikan sanksi terkait pelanggaran regulasi yang dilakukan,” kata Akmal. “Punish and reward harus diberlakukan bila kita ingin perubahan sepak bola Indonesia ke arah yang lebih baik, profesional, bermartabat, dan berprestasi seperti yang kita cita-citakan. Save Our Soccer #SOSberharap usai lebaran semua bisa kembali ke jalan yang benar.” *

Komentar Pengunjung

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com