#SOS: Omen Tumbal Nyawa ke-51 Suporter Sepak Bola Nasional

Pada 25 October 2016 12:50 WIB

fdsinews.com, Jakarta – 24 Oktober 2016 – Sepak bola Indonesia kembali memakan tumbal. Seorang bobotoh harus meregang nyawa karena dikeroyok jelang menyaksikan pertandingan Persib Bandung melawan Persegres Gresik United di Stadion Wibawa Mukti, Cikarang, Sabtu (22/10).

Adalah Muhammad Rovi Arrahman (17) yang bernasib nahas. Omen, begitu sang remaja akrab dipanggil, dikeroyok puluhan orang saat melintas di Jalan Raya Inspeksi Kalimalang, Cikarang Selatan, Jawa Barat. Ia dan dua rekannya dilempari batu dan helm. Omen yang dibonceng motor paling belakang terjatuh dan terseret sekitar tujuh meter.

Remaja warga Desa Telaga Asih, Kampung Babakan, Cikarang Barat, itu dipukuli secara brutal menggunakan tangan, batu, benda tumpul dan senjata tajam. Saat ditolong Omen sudah dalam kondisi kritis akibat luka robek di pipi kanan, memar di bagian belakang kepala, luka lecet di tangan kanan dan kiri serta kedua kakinya. Sempat dilarikan ke Rumah Sakit Harapan Keluarga, nyawa Omen tak tertolong. Ia mengembuskan nafas terakhir, Minggu (23/10).

Polisi sudah menangkap delapan orang remaja yang diduga pelaku penyerangan. Mereka adalah MI (17), R (17), DA (16), MZ (16), GBK (16), (MTP), AR (18) dan MF (17). Mereka diperiksa intensif di Unit Reskrim Polsek Cikarang Selatan. Hasil pemeriksaaan menyebutkan kedelapan pelaku mengaku anggota The Jakmania, suporter Persija Jakarta.

#SOS Save Our Soccer sangat prihatin terhadap aksi pengeroyokan yang berujung kematian suporter sepak bola. Berdasarkan data dari Badan Penelitian dan Pengembangan (Litbang) #SOS, Omen adalah korban nyawa ke-51 sejak Liga Indonesia digelar pada 1994/1995. Omen merupakan bobotoh keempat yang tewas saat mendukung Persib setelah Rangga Cipta Nugraha, 22 tahun, Lazuardi (29), dan Dani Maulana (17)  yang meninggal setelah dikeroyok oknum suporter The Jakmania saat timnya dijamu Persija di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, 27 Mei 2012.

“Terlalu mahal bila sepak bola harus dibayar dengan nyawa. Kejadian ini tak boleh lagi terulang. Polisi harus mengusut tuntas pelakunya dan memberikan hukuman sepadan agar ada efek jera,” kata Akmal Marhali, Koordinator #SOS. “Tak ada musuh dalam sepak bola. Yang ada hanya rivalitas selama 90 menit di lapangan. Dan, ini harus dipahami semua elemen sepak bola di tanah air. Sepak bola adalah hiburan, bukan tempat pemakaman,” Akmal menambahkan.

Kematian Omen harus menjadi renungan sekaligus intropeksi bagi seluruh stakeholder sepak bola nasional. Mulai dari PSSI, operator kompetisi, klub, sampai kepada organisasi suporter harus berbenah. Gesekan suporter yang berujung bentrokan dan menelan korban nyawa tak boleh lagi terulang. Salah satunya tentu dengan membuat regulasi dan aturan yang jelas dan tegas untuk supporter.

“Sudah waktunya suporter juga dibuatkan regulasi. Football Spectator Act (FSA) yang diberlakukan di Liga Inggris sejak 1989 bisa dijadikan rujukan. FSA mewajibkan seluruh suporter di Inggris memiliki kartu keanggotaan dari klub yang mereka dukung. Ini untuk mengidentifikasi suporter yang bikin rusuh. Mereka akan dicabut kartu anggotanya serta tak boleh menonton pertandingan seumur hidup di stadion bila dinyatakan bersalah,” kata Akmal.

FSA juga mengatur keberadaan Badan Otoritas Lisensi baru yang bertugas memberi, atau mencabut izin sebuah stadion untuk menyelenggarakan pertandingan. Kewenangan besar diberikan kepada Badan Lisensi agar tak ada lagi stadion yang tingkat keamanannya rendah. “Yang pasti PSSI, operator, dan juga klub harus memberikan pembinaan kepada suporter. Mulai dari rule of games sampai kepada sanksi-sanksi yang akan diberikan bila melakukan aksi anarkis dan vandalis baik di dalam maupun di luar stadion. Ini salah satu cara untuk mencegah potensi kekerasan yang berujung tumbal nyawa. Cukup Omen yang terakhir meregang nyawa,” Akmal mengungkapkan. *

Komentar Pengunjung

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com