Sepakbola Indonesiaku Untuk Siapa?

Pada 22 May 2014 02:29 WIB

Oleh: Hady Mamadecoco*

Hal yang pertama keluar dari pikiran penulis adalah pertanyaan “sepakbola indonesiaku untuk siapa?” bisa jadi pertanyaan ini mungkin juga sama dengan beberapa orang dipenjuru nusantara seperti penulis.

Bicara tentang pengetahuan sepakbola penulis hanyalah hafal pemain sepakbola dengan nomor-nomor punggung keramat itupun tidak banyak karena penulis bukanlah seorang pecinta mati sepakbola. Lebih banyak ambil praktisnya dengan melihat hasil skor di media cetak daripada menghabiskan waktu untuk menikmati sajian si kulit bundar ke stadion atau melalui media layar kaca.

Namun di era AFF 2010 euforia timnas Indonesia begitu menarik perhatian penulis, bukan dikarenakan para pemainnya, tetapi apa yang menjadikan sepakbola Indonesia begitu menjadi magnet orang banyak di semua kalangan. Apakah semata-mata karena mencari hiburan atau memang ada nilai lain sehingga sepakbola seolah menjadi kebutuhan utama kebanyakan masyarakat di Indonesia, bahkan dunia.

Pada AFF 2010 timnas Indonesia yang diwakili oleh Firman Utina cs begitu menaikan sebuah harapan akan prestasi serta menjadi sebuah kebanggan secara keseluruhan bagi rakyat Indonesia atas nama Nasionalisme. Tapi apalah dikata harapan itu kandas di partai final dan cukup berpuas diri sebagai runner up dan terus berulang tanpa prestasi di seri AFF berikutnya.

Sebagai orang yang tanpa pengetahuan sepakbola, yang saya tahu hanyalah sepakbola itu adalah sebuah olah raga yang mengedepankan sportifitas dan mampu membangkitkan rasa nasionalisme manakala timnas Indonesia mengumandangkan Indonesia Raya di tengah lapangan hijau.

Ketika sebagian orang mengatakan “sepakbola Indonesia sedang sakit” saya mulai lebih tertarik untuk mengenal lebih jauh seperti apa wujud sepakbola Indonesia saat ini. Dari bergulirnya kompetisi Liga Primer Indonesia (LPI) kemudian, Indonesian Premier League (IPL) dan kembali lagi ke ISL (Indonesian Super League) seperti menjadi sebuah puzzle yang penulis coba tarik benang merahnya “Untuk siapakah sepakbola Indonesia itu”

Sebagai orang yang awam, penulis tentunya berusaha untuk mencari dan mengikuti perkembangan berita-berita seputar sepakbola Indonesia, dari a-z berkeliling melalui website dan fanspage sampai ke group. Hingga sampailah penulis pada satu group dimana para anggotanya merupakan kalangan intelektual, pengurus, wartawan sepakbola bahkan sampai pada seorang tukang es kelapa seperti penulis ini :D.

Sebagai silent reader, dalam group tersebut selalu saja hadir thread sepakbola yang memberikan berita tentang suatu peristiwa dan kejadian dalam kompetisi sepakbola Indonesia. Mulai dari penyelenggaraan, pemilik klub, sejarah klub, fanatisme suporter sampai yang paling tragis adalah kematian pemain sepakbola dari berbagai kompetisi yang bergulir di Indonesia dikarenakan tidak sehatnya finansial klub sampai terakhir adalah kematian striker persiraja (alm) akli yang organ tubuhnya mengalami kebocoran karena tindakan “sadis” penjaga gawang dalam usaha menjaga jaringnya tidak kebobolan.

Kembali lagi pada pertanyaan penulis “Sepakbola Indonesiaku untuk siapa” jika melihat fenomena yang saat ini begitu kencang berhembus mulai dari Pemilik klub adalah anggota partai politik aktif, corong politik partai, pengaturan skor, kebrutalan supporter, kematian pemain bahkan sampai pada pemandangan terpecahnya beberapa daerah karena rivalitas klub peserta kompetisi.

Aneh.. jadi buat siapa sepakbola Indonesia ini?? Untuk rakyat Indonesia?? Untuk menjadi alat pemersatu bangsa?? Untuk mengajarkan sportifitas pada masyarakat Indonesia?? Atau untuk menjadi wadah profesional bagi para atlit sepakbola?? Salah.. saya merasa sebagai orang yang sangat awam tentang sepakbola ini merasa ini ada yang salah!!

Bila memang sepakbola indonesia ini untuk prestasi bangsa kenapa fasilitas sepakbola di Indonesia serasa berada di barisan belakang dari negara-negara lain?? Bukankah fasilitas itu media penunjang utama dalam latihan menuju prestasi??

Bila memang sepakbola indonesia memupuk rasa nasionalisme tapi kenapa ada pembiaran supporter sepakbola melakukan aksi superhero mereka atas nama fanatisme?? Lalu bagaimana jika penulis yang sejatinya adalah penggemar klub A dimutasi untuk bekerja di daerah klub B yang sejatinya adalah rival utama, apakah ini tidak menjadi sebuah bibit keresahan dan dilema dalam hati penulis, bekerja untuk mencukupi kebutuhan keluarga atau mati karena masuk ke daerah lawan dikarenakan tajamnya rivalitas antar klub A dan B.

Begitu juga bila sepakbola indonesia untuk menyalurkan bakat-bakat terpendam putra-putri Indonesia dalam mengolah si kulit bundar, kurangnya perhatian terhadap prosedur finansial pada klub sepakbola menyebabkan effect domino mulai dari penunjukkan presiden klub dari golongan pemerintah atau partai politik yang memiliki motif tersembunyi menggunakan massa suporter fanatik, sehingga boleh dikatakan sumber keuangan klub bukan berasal dari kekuatan sponsor dan supporter tetapi bersumber dari pendanaan individu yang memiliki kepentingan. Ketika kepentingannya sudah tercapai atau gagal maka fenomena yang terjadi adalah terganggunya finansial team untuk mengikuti kompetisi.

Ya begitulah pertanyaan penulis yang belum bertemu dengan jawabannya seperti air sebagai pelepas dahaga. Jika memang mau sepakbola indonesia untuk prestasi, nasionalisme dan profesionalisme apa yang bisa kita lakukan untuk menjawab pertanyaan seorang tukang es kelapa ini: “SEPAKBOLA INDONESIAKU UNTUK SIAPA??

 

 

*Pecinta sepakbola dari sudut warung es kelapa mamadecoco (www.mamadecoco.info)

 

 

Komentar Pengunjung

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com