Sejarah Evolusi Taktik dan Formasi Sepakbola (Bagian 2)

Pada 27 May 2014 16:15 WIB

Artikel ini adalah artikel lanjutan dari Sejarah Evolusi Taktik dan Formasi Sepakbola (Bagian 1)

Oleh: Bram Carella

1950-an Brazil dan Empat Bek Sejajar

Pada saat Hungaria sedang menikmati masa kejayaannya di era 1950-an yang bermain dengan menarik center forward lebih ketengah. Brazil juga tidak mau ketinggalan untuk menyempurnakan formasi dan taktik mereka. Klub lokal bernama Vila Nova sudah mengadopsi sistem serupa di awal 1950-an, kemudian ada Flamengo menggunakan sistem yang sama dan berhasil memenangkan tiga kejuaraan Carioca antara tahun 1953 hingga 1955.

brazil vs sweden wc 58

Formasi & Line-Up: Brazil (Atas) vs Swedia (Bawah) – Final Piala Dunia 1958

Untuk level internasional, Dunia pertama kali melihat Brazil dengan sesuatu yang “baru” adalah pada tahun 1954. Pada saat Piala Dunia tahun 1954 di Swiss, saat itu Didi, Inside forward kanan asal Brazil, mulai bermain lebih ke dalam untuk bergabung dengan pemain dari lini tengah, tapi inovasinya masih dibayangi oleh perubahan mencolok dari Tim Nasional Hungaria yang menggilas Brazil dalam Pertandingan yang terkenal dan legendaris The Battle of Berne.

Empat tahun berselang, revolusi taktik dilakukan oleh tim nasional Brazil, Untuk pertama kalinya, Brazil benar-benar menjadi tim pertama yang meluncurkan empat pemain bertahan sejajar, pada Piala Dunia tahun 1958 di Swedia.

Ini adalah salah satu bagian besar dari evolusi taktik dalam sejarah sepak bola.
Sepak bola Samba ala Brazil. Ketika Brazil pertama kali mengadopsi formasi 4-2-4 ini merupakan awal mula dari kelahiran attacking fullback atau bek sayap yang bisa naik membantu serangan.

Salah satu pemain attacking full back pertama di kancah sepakbola internasional adalah Djalma Pereira Dias dos Santos atau lebih populer dengan nama Djalma Santos. Full back kanan tim nasional Brazil yang juga bermain di klub Portuguesa dan Palmeiras di antara tahun 1952-1968 ini dianggap sebagai salah satu full back terbaik dalam sejarah. Djalma Santos mencatat 964 penampilan, mencetak 23 gol dalam karir bermainnya untuk tim nasional Brazil, ia berkesempatan untuk mengikuti 4 Piala Dunia: 98 penampilan dan 2 trofi Piala Dunia sudah ia persembahkan bagi negaranya. Dia adalah bagian dari tim All Star Brazil di Piala Dunia1958, ketika Brazil memenangkan trofi Piala Dunia pertama mereka di Swedia.

Pada Piala Dunia 1958 di Swedia, Brazil menggunakan formasi 4-2-4. Di sisi berlawanan dari Djalma bermain ada Nilton Santos, seorang full bek kiri yang mencetak 3 gol dalam 75 penampilan bagi tim nasional Brazil, dan juga memiliki kemampuan yang sama dalam menyerang seperti Djalma Santos.

Rekaman pertandingan komplit Final Piala Dunia 1958: Swedia vs Brazil

Mungkin inilah yang menjadi design awal dari gaya attacking wingback asal Brazil di tahun-tahun berikutnya, mungkin juga itu adalah evolusi taktik sepak bola dan perpindahan dari man marking ke zonal marking. Yang pasti adalah bahwa attacking fullback pertama membuat dampak signifikan tentang bagaimana gaya menyerang dari pertahanan melalui wingback sejak saat itu lebih disukai untuk digunakan dan bahkan hingga sekarang.

1960-an Pertahanan Grendel – Catenaccio

Catenaccio

Sistem Formasi Catenaccio

Catenaccio adalah sistem taktik dalam sepak bola dengan penekanan kuat pada pertahanan. Di Italia, catenaccio berarti “pintu-baut”, yang berarti pertahanan lini belakang yang sangat terorganisir dan efektif difokuskan pada pencegahan serangan lawan dan menghalau peluang mencetak gol.

Sistem ini dibuat oleh pelatih terkenal asal Argentina, Helenio Herrera yang menangani Internazionale pada tahun 1960-an.

Catenaccio dipengaruhi oleh verrou (bahasa perancis: yang berarti mengunci atau grendel) sistem ini diciptakan oleh pelatih Austria Karl Rappan. Ketika ia menjadi pelatih tim nasional Swiss pada tahun 1930-an dan 1940-an, Rappan sweeper defensif disebut verrouilleur, yang sangat defensif dan diposisikan tepat di depan kiper. pada tahun 1950-an, pelatih Padova, Nereo Rocco mempelopori sistem ini di Italia di mana sistem ini akan digunakan lagi oleh tim Internazionale dari awal 1960-an.

Sistem verrou milik Rappan itu, diusulkan pada tahun 1932, ketika ia menjadi pelatih Servette, dengan empat bek, memainkan sistem man-to-man marking yang ketat, ditambah playmaker di tengah lapangan yang bermain bola bersama-sama dengan dua pemain sayap.

Taktik Rocco, sering disebut sebagai Catenaccio “yang sebenarnya”, publik mengetahuinya pertama kali pada tahun 1947 dengan Triestina: mode yang paling umum dari operasional taktik ini adalah formasi 1-3-3-3 dengan pendekatan tim defensif yang sangat ketat. Dengan catenaccio, Triestina menyelesaikan kompetisi Serie A secara mengejutkan finish di tempat kedua. Beberapa variasi taktik diantaranya termasuk sistem formasi 1-4-4-1 dan 1-4-3-2.

Inovasi kunci dari Catenaccio adalah pengenalan peran libero atau bek bebas, dan juga disebut “sweeper”, yang diposisikan di belakang tiga bek. Peran sweeper adalah untuk merebut bola, menghalau striker lawan dan penjagaan secara ketat bila diperlukan. Inovasi penting lainnya adalah serangan balik (counter-attack), terutama didasarkan pada umpan-umpan panjang dari lini pertahanan.

helenio_herrera

Foto: Helenio Herrera memegang trofi kejuaraan dunia antarklub dan trofi piala champions

Dalam versi Herrera di tahun 1960-an, empat man-to-man marking bek ditugaskan untuk menjaga pergerakkan setiap penyerang lawan sedangkan sweeper akan mengambil setiap bola yang lepas atau bola yang luput dari jangkauan para bek. Penerapan dari sistem ini dalam sepak bola Italia melahirkan munculnya banyak bek-bek legendaris dari Italia yang sangat dikenal dengan takling keras mereka, dan pertahanan yang tak kenal kompromi. Bek-bek seperti Claudio Gentile dan Gaetano Scirea pada 1970-an, Giuseppe Bergomi dan Franco Baresi pada 1980-an, empat bek Italia milik AC Milan; Franco Baresi, Paolo Maldini, Alessandro Costacurta dan Mauro Tassotti pada tahun 1990-an dan 2006 pemenang Piala Dunia Fabio Cannavaro dan Alessandro Nesta dan banyak bek-bek terkenal lain di tahun 2000-an menjadi tulang punggung tim nasional Italia dan juga memainkan peran penting dalam keberhasilan masing-masing klub Serie A baik domestik dan kontinental. Namun, meskipun konotasi buruk dari permainan defensif yang diklaim orang sebagai permainan sepakbola negatif, Herrera mengaku tak lama sebelum kematiannya bahwa sistem ini adalah sistem yang menyerang berbanding terbalik dengan pemikiran publik yang menganggap ini adalah sistem defensif, ia mengatakan; “Masalahnya adalah bahwa sebagian besar orang berfikiran salah tentang saya. Mereka lupa untuk menyertakan prinsip-prinsip menyerang yang ada pada Catenaccio saya. Ya, saya punya Armando Picchi sebagai libero, tapi saya juga memiliki Giacinto Facchetti, seorang full bek mencetak gol sebanyak seorang striker.”

herrera taktik

Foto: Helenio Herrera

Kemudian dalam perkembangannya muncullah Total Football Belanda, sistem yang diciptakan oleh Rinus Michels pada tahun 1970-an, menjadikan Catenaccio versi Herrera agak usang. Dalam Total Football , tidak ada pemain yang beposisi tetap; siapa pun dapat mengasumsikan di lapangan tugas dari seorang penyerang, gelandang atau bek, tergantung pada kondisi permainan. Man-marking saja tidak cukup untuk mengatasi sistem dinamis ini. Pelatih mulai menciptakan sistem taktik baru yang dicampur dengan marking dengan pertahanan zonal atau zonal-marking. Pada tahun 1972, tim asuhan Michels Ajax mengalahkan Inter 2-0 di final European Cup/liga Champions dan koran-koran Belanda menulis “Kehancuran Catenaccio” di tangan Total Football. Dan pada tahun 1973, Ajax menghancurkan AC Milan 6-1 yang dilatih Cesare Maldini pada Piala Super Eropa dalam pertandingan di mana sistem pertahanan Milan dihancurkan oleh Ajax.

1970-an Brazil – Inovasi Attacking Full Back menjadi Modern Wing Back

Brazil_1970

Foto: Skuad Brazil Piala Dunia 1970

Ketika Mário Zagallo diangkat sebagai pelatih tim nasional Brazil pada tahun 1970, ia menjadi orang pertama yang memenangkan Piala Dunia baik sebagai pemain dan pelatih, formasi 4-2-4 tidak lagi digunakan, ia lebih memilih formasi 4-3-3 yang lebih fleksibel (varian pertama dari 4-2-3-1, yang kita lihat sekarang ini). Di sini, gerakan menyerang dan keterampilan membangun serangan dari Carlos Alberto Torres memainkan peran penting. Attacking fullback ini menjadi kapten tim nasional Brazil dan berhasil mencetak 8 gol dalam 53 penampilannya, salah satu golnya dianggap FIFA sebagai salah satu gol terbaik dalam sejarah Piala Dunia.

Video: Gol Carlos Alberto pada final Piala Dunia 1970 vs Italia

Carlos Alberto adalah seorang attacking fullback terbaik yang pernah ada, ia memiliki kemampuan dribbling dan kontrol bola dari sayap yang baik. Seperti video di atas menunjukkan, Carlos Alberto memiliki visi bermain yang sangat baik. Di depan Carlos Alberto adalah Jairzinho, seorang inside forward yang selalu melakukan pergerakkan cut inside (seperti gaya pemain sayap modern saat ini).

brazil wc 1970

Formasi 4-2-4: yang digunakan Brazil pada Piala Dunia 1970

Formasi 4-2-4 ini sangat memanfaatkan keterampilan individu dan fisik pemain, formasi ini bertujuan secara efektif untuk menggunakan enam pemain belakang dan enam pemain depan, dengan dua gelandang tengah melakukan kedua tugasnya bertahan dan menyerang. Jumlah bek meningkat dari yang semula 2 atau 3 menjadi empat, tapi ini memungkinkan mereka untuk lebih dekat satu sama lain dan lebih solid dalam bertahan, sehingga memungkinkan kerja sama yang efektif di antara mereka, intinya adalah bahwa pertahanan yang lebih kuat akan memungkinkan serangan yang lebih kuat.

Lini tengah yang relatif kosong ini sangat mengandalkan pemain belakang, yang pada masa ini tidak hanya harus mampu untuk mencuri bola, tapi juga harus bisa untuk menahan bola, mengoper bola atau bahkan menggiring bola dan memulai serangan. Jadi formasi ini memerlukan keterampilan skill individu dari semua pemain, termasuk 4 bek sejajar, sistem ini membutuhkan pemain-pemain yang mempunyai teknik tinggi, sehingga sangat cocok untuk gaya pemain-pemain asal Brazil pada saat itu. Formasi 4-2-4 membutuhkan pemahaman taktik yang mendalam, karena hanya memiliki dua gelandang yang bisa menyebabkan masalah pada pertahanan jika sedang diserang oleh lawan. Sistem ini juga cukup dinamis dan fleksibel untuk memungkinkan perubahan posisi selama bermain.

4-2-4 pertama kali digunakan dengan sukses di level klub di Brazil oleh Palmeiras dan Santos, dan digunakan oleh Brazil dalam kemenangan mereka di Piala Dunia 1958 dan Piala Dunia 1970, keduanya menampilkan Pelé, dan Mário Zagallo, yang menjadi pemain pada tahun 1958 dan melatih pada tahun 1970. formasi ini dengan cepat diadopsi dan menyebar di seluruh dunia setelah keberhasilan Brazil di Piala Dunia.

Beberapa orang berpendapat, mungkin orang Hungaria-lah yang membuat formasi 4-2-4 ini namun orang Brazil yang membuat formasi 4-2-4 ini menjadi “sempurna”.
Sehingga pencapaiannya terjadi pada timnas Brazil itu sendiri, yang berhasil meraih 2 Piala Dunia berturut-turut; 1958 dan 1962.

brazil wc 82

Formasi 4-2-2-2: yang digunakan Brazil pada Piala Dunia 1982

Formasi 4-2-4 Tidak digunakan lagi pada tahun1982, ketika Brazil (yang telah menggunakan 4-2-4 selama beberapa tahun dan berhasil meraih 3 Piala Dunia), timnas Brazil membuat satu gebrakan lagi dengan memunculkan formasi baru yakni sistem formasi 4-2-2-2 di Piala Dunia 1982 yang diadakan di Spanyol, kekuatan utama formasi ini hampir sama dengan formasi Brazil sebelumnya, pada wingback dan Sejak saat Brazil menggunakan sistem 4-2-2-2 kita bisa melihat dengan jelas fungsi sesungguhnya dari attacking wingback modern seperti yang kita lihat sekarang ini. Tanpa pemain sayap (winger). 2 attacking wingback kiri dan kanan seperti Leandro dan Júnior bisa menjelajah seluruh sisi lapangan. Set-up formasi 4-2-2-2 yang dinamis dan fleksibel ini dirancang agar wingback bisa mengeksplor sisi sayap. Selain itu Leandro dan Júnior juga dipaksa untuk naik dan turun (menyerang dan bertahan) baik untuk memberikan umpan crossing, dan juga menggiring bola sepanjang sisi lapangan untuk membuat ruang kosong bagi para pemain lain.

Berkat inovasi taktik dari Brazil ini, dan pengenalan attacking wingback mereka, kita semua telah bisa melihat hasilnya, sampai detik ini Brazil selalu mempunyai wingbak/fullback yang handal, bertalenta, kuat dalam menyerang dan bertahan. beberapa diantaranya; Cafu, Roberto Carlos, Maicon, Marcelo dan Daniel Alves, itu adalah beberapa jelmaan dari Carlos Alberto pada era sepakbola modern ini, semua pemain tersebut mampu memberikan ancaman ke pertahanan lawan melalui overlaping, crossing, penetrasi dan tembakan jarak jauhnya.

1970-an Penguasaan Bola & Penguasaan Ruang – Total Football Belanda

michels

Foto: Rinus Michels

Belanda adalah salah satu dari sedikit negara di dunia yang memainkan formasi tradisional 2-3-5 pada akhir 1950-an. Pada saat itu mereka masih sangat tertinggal jauh dari negara lain dalam hal pengembangan taktik sepakbola, Tapi hal ini akan segera berubah. Setelah pembinaan pemain muda yang serius tahun 1960-an.

Apresiasi luar biasa selayaknya bisa diberikan kepada Jimmy Hogan, Hugo Meisl, Gusztáv Sebes dengan Magical Magyarnya, sapuan bersih dari sweeper/libero dalam sistem Catenaccio, dan sepakbola samba Brazil yang berhasil menjuarai dua Piala Dunia berturut-turut.

Pada periode pertama tahun 1960-an, Helenio Herrera (mantan pelatih Internazionale Milan) telah sukses besar dengan taktik defensif-nya pertahanan grendel yang rapat dengan man-to-man marking, sistem yang sangat ultra-defensif ini disebut Catenaccio. Cerminan dari bagaimana gaya sepak bola yang dimainkan di masa itu: kaku, sistem yang sangat defensif yang terlihat sperti bukan untuk bermain bola melainkan untuk menghancurkan tim lawan dengan permainan kotor, takling keras dan trik-trik licik. Sepakbola telah menjadi membosankan pada masa itu, permainan pada saat itu hanya tentang bagaimana caranya menghindari kekalahan adalah jauh lebih penting daripada bermain sepakbola indah. Total Football Belanda diciptakan sebagai jawaban untuk melawan pertahanan grendel dan sistem man marking yang dianut dalam Catenaccio atau sistem serupa lainnya, Total Football didirikan dari sesuatu yang “destruktif” seperti ball posesion. Ketika Rinus Michels, mantan pemain Ajax yang ditunjuk sebagai pelatih Ajax pada 1965, ketika itu Ajax masih sangat jauh untuk bisa bersaing di kancah teratas Eropa. Mereka masih berjuang untuk menghindari degradasi. Dengan pengangkatannya sebagai pelatih, Michels memasang formasi 4-2-4 meng-copy dari dua kali juara Piala Dunia Brazil, sebuah formasi yang nantinya akan bermutasi menjadi 1-3-3-3 dengan libero.

Keberhasilan taktik Total Football sangat tergantung pada adaptasi dari setiap pemain sepak bola dalam tim, khususnya kemampuan untuk cepat beralih posisi tergantung pada situasi di lapangan. Teori ini membutuhkan pemain yang bisa menguasai beberapa posisi; karenanya, membutuhkan pemain dengan kemampuan teknis dan fisik yang baik dan mumpuni.

Evolusi taktik Total Football telah menjadi salah satu cerita utama dalam sejarah sepakbola,
Fondasi untuk Total Football yang diletakkan oleh Jack Reynolds, yang menjadi pelatih Ajax pada tahun 1915-1925, 1928-1940 dan 1945-1947. Sistem ini dikembangkan lebih lanjut oleh tim nasional sepak bola Hungaria dari 1950-an, The Magical Magyar yang legendaris, yang dikelola oleh Gusztáv Sebes yang sangat terinspirasi oleh pembinaan sepakbola milik Jimmy Hogan di negara-negara sekitar sungai danube di Eropa Tengah pada sekitar 1920 & 1930-an.

Rinus Michels, ketika masih menjadi pemain adalah anak didik Jack Reynolds di Ajax, ketika Michels menjadi pelatih Ajax ia menyempurnakan beberapa konsep taktik ke dalam apa yang kita kenal hari ini sebagai “Total Football” (Totaalvoetbal; dalam bahasa Belanda), ia menggunakannya pada masa kepelatihannya untuk skuad Ajax dan tim nasional Belanda di tahun 1970-an. Lebih lanjut Michels disempurnakan lagi ketika ia menangani Barcelona pada tahun 1971. Pemain depan Belanda Johan Cruyff adalah contoh pemain paling terkenal dalam penggunaan sistem ini.

johann_cruyff

Foto: Johan Cruyff pada saat melawan Uruguay di Piala Dunia 1974

Meskipun posisi asli Cruyff adalah sebagai penyerang tengah (center forward), ia bisa berlari ke seluruh penjuru lapangan, secara tak terduga ia bisa muncul di mana pun, ini bisa mengakibatkan strategi tim lawan menjadi kacau dan kehilangan konsentrasi. ini mengakibatkan kebutuhan akan sistem dinamis seperti Total Football. Rekan Cruyff sendiri akan menyesuaikannya dengan gerakan-gerakan yang fleksibel, perpindahan posisi pemain secara konstan sehingga peran taktik dalam tim selalu penuh.

Ruang dan penciptaan itu adalah konsep dasar dari Total Football. Bek Ajax Barry Hulshoff menjelaskan bagaimana tim yang memenangkan European Cup/Liga Champions pada tahun 1971, 1972, dan 1973; Ajax. bekerja untuk keuntungan mereka: “Kami membahas tentang ruang sepanjang waktu Johan Cruyff selalu bicara tentang kondisi yang tepat di mana pemain harus berlari dan di mana mereka harus menempatkan diri, dan dimana kondisi ketika mereka tidak harus berpindah posisi.”

Perpindahan posisi pemain secara konstan yang dikenal sebagai Total Football hanya terjadi karena kesadaran akan penggunaan ruang ini. “Itu adalah tentang bagaimana membuat ruang kosong, mengisi ruang, dan mengorganisir ruang, seperti seorang arsitektur di lapangan sepakbola.” kata Hulshoff. Sistem ini dikembangkan secara organik dan kolaboratif, Cruyff menyimpulkan filosofinya (Total Football): “Sepak bola sederhana adalah sepakbola yang paling indah. Tapi bermain sepak bola sederhana adalah hal yang paling sulit.”

Final European Cup/liga Champions 1972 menjadi bukti era terbaik Total Football saat itu. Setelah kemenangan Ajax 2-0 atas Internazionale, surat kabar di seluruh Eropa melaporkan “Kematian Catenaccio.” Surat kabar Belanda Algemeen Dagblad menulis : “Sistem Inter sudah dirusak, sepakbola Defensif hancur.”

Michels diangkat tahun 1974 oleh KNVB untuk Piala Dunia FIFA 1974. Sebagian besar dari tim nasional Belanda di 1974 terdiri dari pemain dari Ajax dan Feyenoord. Namun ada satu yang menarik perhatian, Rob Rensenbrink adalah orang yang bermain di luar negeri, ia bermain untuk klub di negara tetangga Belgia, dan tidak terbiasa dengan Total Football, ia dipilih dan beradaptasi dengan baik. Selama turnamen, Belanda melalui pertandingan ronde pertama dan kedua mereka, mengalahkan Argentina (4-0), Jerman Timur (2-0) dan Brazil (2-0) untuk mengatur pertemuan di final dengan tuan rumah Jerman Barat meskipun pada akhirnya kalah 2-1.

Total Football Belanda, yang dipelopori oleh Rinus Michels dapat digambarkan sebagai sistem taktik di mana keyakinan dari pendiri sistem ini adalah tentang cara permainan di berbagai aspek, dari blok defensif (tanpa posesion) hingga penyerangan (dengan posesion), dan tentu saja juga dalam tahap transisi saat tim sedang mencari untuk mendapatkan kembali ball posesionnya dengan cepat.

Dengan penemuan Total Football Belanda, permainan sepakbola sedikit melangkah maju mendekati sepakbola modern yang kita alami hari ini, perangkap offside yang agresif dan banyak pergerakan tanpa bola, seperti The Magical Magyar atau improvisasi sepak bola samba Brazil seperti yang dibahas sebelumnya, tetapi juga karena sebuah visi baru tentang bagaimana untuk mendapatkan keuntungan dari seluruh kemampuan 11 pemain yang ada di lapangan.

“Ketika kami bertahan, jarak antara kami harus rapat. Ketika kami menyerang, kami menyebar dan memanfaatkan sayap […]”

“Ketika kami bertahan, kita menjaga lawan agar tetap berada pada garis tengah. Sudut pandang kami adalah bahwa kami tidak melindungi pertahanan kami sendiri, kami menyerang garis tengah.”

Ruud Krol, “Brilliant Orange; The Neurotic Genius of Dutch Soccer”

Inti dari konsep Total Football adalah teori dari pendiri taktik ini tentang ruang yang fleksibel di lapangan. Idenya adalah bahwa “setiap dimensi lapangan bisa dirubah oleh permainan tim” hal ini juga dipengaruhi kondisi sosial, budaya dan pola pikir masyarakat Belanda karena Total Football juga sedikit diilhami oleh gerakan sosial Total yang digagas oleh arsitek filisuf Belanda tahun 1970-an. Menurut David Winner (jurnalis inggris), masyarakat Belanda sangat tergila-gila dengan permasalahan ruang (spatial neurotic). Sebagian daratan Belanda lebih rendah dari lautan seperti Amesterdam dan Rotterdam, Masyarakat Belanda selalu berpikir bagaimana memanfaatkan lahan secara efektif atau memperluas daratan. Pikiran memperluas dan mengatur ruang menjadi obesesi masyarakat Belanda. Ketika itu munculah gagasan bahwa persoalan ruang bukan hanya masalah riil tetapi juga masalah imajinasi ruang dalam pikiran. Dalam pikiran, ruang bisa mengembang dan mengerut. Dari sini-lah salah satu titik tolak lahirnya Total Football.
Rinus Michels sangat yakin bahwa mempertahankan penguasaan bola (ball posesion) menjadi jauh lebih mudah ketika pemain bisa memperluas dan mempersempit ruang lapangan. Ketika permainan dalam kendali (menguasai ball posesion), maka pemain diwajibkan akan membuat lapangan menjadi seluas mungkin dengan cara membuka ruang ke setiap jengkal lapangan yang tersedia. Sewaktu lawan menguasai bola, ruang harus dibuat sesempit mungkin bagi pemain lawan. Pemain yang terdekat dengan pemain lawan yang menguasai bola dituntut untuk mempressing atau menutupnya secepat mungkin, tidak peduli apakah itu pemain bertahan atau bukan sehingga lawan jadi berpikir bahwa lapangan begitu sempit.

belanda 1-3-3-3pertahanan dan pressing total-footballHal ini biasanya dilakukan dengan memajukan garis pertahanan (biasanya garis pertahanan berjarak 10 meter lebih maju dari kotak penalti) pressing tim secara bersama-sama dengan agresif. Merapatkan jarak dan ruang antar pemain ini memastikan bahwa akan ada sedikit alternatif bagi tim lawan untuk melakukan serangan balik dan memaksa mereka untuk membuat keputusan cepat, tak jarang lawan kehilangan fokus dan melakukan blunder. Pada tahap menyerang, pemain gelandang bergerak kesamping lebih dekat dengan posisi sayap di sisi samping lapangan bergantian dengan full bek dan pemain sayap (winger atau inside forward) bertugas untuk menyisir sisi sayap lapangan lalu kemudian melakukan cut inside, masuk ke kotak penalti lawan untuk melakukan umpan atau mencetak gol. sementara dalam fase bertahan, gelandang tengah harus berusaha semaksimal mungkin untuk selalu lebih dekat dengan zona pertahanan.

Video: Total Football The Beginning (Video bagaimana total football dipraktekkan di lapangan)

Video: Total Football The Perfection (Video bagaimana total football dipraktekkan di lapangan)

Mengadopsi ide-ide dari Ajax pada tahun 1970-an, yang selama dua musim dengan mempunyai rekor 100% tak terkalahkan di kandang, serta memenangkan beberapa gelar Belanda dan Eropa, pelatih Belanda Rinus Michels yang juga mantan pelatih Ajax menerapkan “Total Football” di timnas Belanda. Dengan ball posesion, para pembagi bola akan bergerak ke posisi kosong untuk memastikan struktur tim terbentuk. Di fase ini, setiap pemain bisa bermain sebagai bek, gelandang atau striker. Kunci di taktik ini adalah Johan Cruyff. meskipun Belanda pada masa jayanya tidak memenangkan Piala Dunia dan hanya menjadi runner-up. Orang-orang akan tetap mengenang permainan sepakbola indah Belanda ini, betapa beruntungnya orang yang hidup dan menyaksikan langsung Total Football Belanda pada saat itu.

total football

Formasi 1-3-3-3: sistem taktik dan strategi Total Football

Gagasan di tahun-tahun sebelumnya mengenai taktik adalah gagasan dimana pemain hanya ditunjuk untuk peran khusus pada zona dan posisi mereka, Namun lain halnya dengan Total Football, gaya baru ini mendorong semua pemain di lapangan untuk terlibat dalam semua fase permainan (bertahan dan menyerang) dengan memanfaatkan pemain yang punya fleksibilitas dan kemampuan beradaptasi di semua posisi. Ketika salah satu pemain naik ke posisi baru, yang lain akan menutup atau meng-cover dan mengisi posisinya. Ini berarti diperlukan pemain serba bisa yang bisa bermain di semua posisi. Dengan kata lain; semua pemain harus mampu mengambil alih peran pemain lain. Perpindahan posisi utama terjadi dalam tiga bagian. Ketika Rensenbrink melakukan cut inside, akan meninggalkan ruang terbuka lalu Krol atau Cruyff bisa pindah ke ruang kosong tersebut. Jika Cruyff bergerak mundur kedalam, Van Hanegem, Jansen atau Neeskens akan menggantikannya. Dan jika Krol bergerak maju, seseorang dalam hal ini Van Hanegem atau Rensenbrink harus menggantikan posisi Krol. Para pemain menyerang dengan rapat dalam setiap bagian. Dengan demikian taktik ini mengharuskan tim berisi para pemain yang mempunyai skill menyerang dan bertahan yang sama bagusnya serta memilki fisik prima untuk bisa tampil konsisten selama 90 menit.

Ketika gaya bermain ini sepenuhnya diterpkan Ajax, hasil dari gerakan secara konstan dan perpindahan posisi pemain, menghasilkan sebuah keseimbangan tim yang baik. Ini memastikan bahwa bentuk taktik dan organisasi melalui semua tahapan permainan akan terjaga, bahkan ketika pemain keluar dari posisi normal mereka, sistem ini juga tidak akan meninggalkan ruang kosong bagi lawan untuk mengeksploitasi, sang master taktik membuatnya jauh lebih mudah untuk mempertahankan posesion bola yang benar-benar efektif dan mencegah atau menghambat pola permainan lawan untuk berkembang. Ini memberikan dimensi baru dalam skema serangan taktik sepakbola dengan ketidakpastian pergerakan pemain yang terkesan kacau dan acak-acakan namun terorganisir dengan baik dan rapi, sesuatu yang belum pernah dialami oleh bek-bek pada era sebelumnya.

“Anda membuat ruang kosong, Anda masuk ke ruang itu. Dan jika bola tidak menghampiri anda, tinggalkanlah tempat itu dan pemain lain akan masuk ke dalamnya. Gerakan ini mengalir menuruni sisi sayap tim dan juga di lini tengah”.

Barry Hulshoff, “Brilliant Orange; The Neurotic Genius of Dutch Soccer”

1970-an Attacking Sweeper Jerman Barat dan Bayern München – 1-3-3-3 – Taktik pembunuh Total Football

beckenbauer

Foto: Franz Beckenbauer

Inovasi: penerapan sweeper yang sedikit “aneh” dilakukan oleh tim nasional Jerman Barat di awal tahun 1970-an pemain tersebut bernama Franz Beckenbauer atau Der Kaiser (sang Kaisar), stamina yang luar biasa memungkinkan dia untuk mendominasi pertandingan.

Sweeper (atau libero (dalam bahasa Italia: bebas) ) adalah jenis bek tengah yang lebih serbaguna yang, seperti namanya, “sweeper” atau berarti menyapu bola jika lawan berhasil menembus garis pertahanan. Posisi mereka agak lebih dinamis daripada bek tengah lainnya yang memarking lawan mereka yang ditentukan. Kemampuan sweeper untuk membaca permainan bahkan lebih penting daripada bek tengah. Sistem catenaccio, yang digunakan dalam sepak bola Italia pada tahun 1960, terutama menerapkan libero atau sweeper defensif. sedikit berbeda dengan Jerman Barat yang menggunakan attacking sweeper dan pada sistem ini attacking sweeper juga berperan sebagai pengatur permainan.

Mantan kapten Jerman Barat Franz Beckenbauer umumnya dilihat orang sebagai penemu libero dan pemain terbaik di posisinya Namun, pemain seperti Velibor Vasovic dan Armando Picchi adalah sweeper atau libero terkemuka sebelum Beckenbauer. Beberapa sweeper atau libero yang pernah ada diantaranya Gaetano Scirea, Bobby Moore, Franco Baresi, Daniel Passarella dan Elías Figueroa.

Beckenbauer Cruyff

Foto: Johan Cruyff (kiri) dan Franz Beckenbauer (kanan) di final Piala Dunia 1974

Jerman 1974

Formasi 1-3-3-3 Jerman Barat dengan attacking sweeper

Formasi yang digunakan Jerman Barat pada 1970-an ini. 1-3-3-3 mirip seperti yang digunakan Belanda tapi perbedaannya adalah penerapan seorang sweeper Franz Bekenbauer yang bergerak secara fleksibel menyerang dan bertahan dan pertahanan zonal marking yang diterapkan tiga bek lainnya secara baik. Terbukti pada partai puncak Piala Dunia 1974 di Olympiasadion, München. Berposisi sebagai sweeper, Beckenbauer sukses meredam agresi Total Football tim nasional Belanda yang dipimpin oleh Johan Cruyff. Jerman Barat berpesta usai mengalahkan Belanda dengan skor 2-1.

Bukan hanya tim nasional Jerman Barat yang sukses dengan penerapan formasi 1-3-3-3 dengan role attacking sweeper Franz Beckenbauer, tapi FC Bayern München juga menggunakan sistem ini pada era 1970-an yang berisi sebagian besar skuad Jerman Barat pada Piala Dunia 1974, dengan Udo Lattek mengambil alih Bayern München pada 1970 dari tangan Branko Zebec, era ini adalah era emas Bayern München dimana gelar yang diraih diantaranya DFB Pokal 1971, Liga Jerman pada musim 1971–72, 1972–73 dan 1973–74, European Cup/Liga Champions tahun 1974 kemudian dilanjutkan oleh Dettmar Cramer dengan meraih gelar European Cup/Liga Champions pada 1975 dan 1976, Piala Intercontinental 1976.

Video: Rekaman Pertandingan Final Piala Dunia 1974: Belanda vs Jerman Barat: 1-2

 

Bersambung…

Komentar Pengunjung

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com