Pemain Cedera Tak Bisa Seenaknya Dipecat

Pada 15 May 2014 15:14 WIB

Jakarta, FDSInews – Minimnya pengetahuan pemain perihal kontrak dan segala klausulnya seringkali menjadikan mereka sebagai korban kebijakan klub yang sewenang-wenang. Salah satunya adalah pemutusan kontrak ketika pemain menderita cedera panjang. Padahal statuta FIFA sendiri sudah jelas tidak memperbolehkan klub memutus kontrak pemain tanpa ada dasar yang kuat, seperti cedera misalnya. Salah satu pemain yang menjadi korban pemutusan “sepihak” ini adalah Maman Abdulrahman. Mantan pemain Sriwijaya FC tersebut harus menerima nasib buruk tatkala manajemen Laskar Wong Kito memutuskan untuk memecatnya lantaran cedera yang diderita Maman.

“Maman mengalami cedera lutut. Meski kondisinya sudah membaik, tapi kita juga khawatir cederanya kambuh. Keputusan diambil berdasarkan rapat bersama dengan jajaran pelatih dan dokter tim. Hasilnya SFC terpaksa memutus kontrak Maman di tengah jalan. Pertimbangnya tidak ada kepastian kapan dia sembuh,” jelas Manajer Tim Robert Heri, Jumat (21/3/2014) .
Wakil Ketua FIFPro (asosiasi pesepakbola profesional sedunia) wilayah Asia/Oceania Takuya Yamazaki menuturkan bahwa adanya cedera pemain tak bisa menjadi alasan pembenar klub memutuskan kontrak si pemain.

“Kontrak harus dihormati,” ujarnya dalam International Legal Conference 2014 di Jakarta, Selasa (6/7).

Takuya memaparkan hak-hak dasar yang dijamin oleh aturan FIFA mengenai Regulations on Status and Transfer of Players (RSTP) atau Regulasi FIFA tentang Status dan Transfer Pemain. Selain di RSTP, hak-hak pemain juga dijamin dalan Surat Edaran FIFA No.1171tentang Persyaratan Minimum Kontrak Pesepakbola Profesional (PCMR).

Lebih lanjut, Takuya menjelaskan Pasal 14 RSTP memang menyatakan bahwa kontrak dapat diakhiri oleh salah satu pihak tanpa konsekuensi, bila ada alasan pembenar. Namun, sayangnya, alasan pembenar ini kerap disalahgunakan atau disalahartikan oleh klub.

Misalnya, kasus cedera pemain. Takuya menjelaskan performa buruk atau cedera pemain dan mangkir dari latihan (selama 2-3 hari) tak bisa dijadikan alasan pembenar untuk memutuskan kontrak. “Ini perlu dipahami,” ujarnya.

Takuya menuturkan bahwa batas waktu 2-3 hari sudah menjadi yurisprudensi di FIFA. Sehingga, klub tak bisa berdalih tak membayar gaji pemain karena mereka tidak latihan selama 2-3 hari, apalagi memutuskan kontrak. “Klub bisa menyuruh pemain untuk latihan. Ada kesempatan yang cukup untuk mengingatkan. Tak bisa memutus kontrak, tanpa memberi peringatan,” jelasnya.

RSTP juga mengatur prinsip bahwa apabila terjadi pengakhiran kontrak tanpa alasan pembenar, kompensasi harus dibayarkan dan bahwa konpensasi tersebut dapat ditetapkan dalam kontrak.

Lebih lanjut, Takuya menjelaskan ‘alasan pembenar’ yang bisa digunakan pemain. “Jika sebuah klub melanggar kontrak pemain (misalnya, gaji terlambat dibayar atau gaji tidak dibayar), pemain dapat menggunakan ini sebagai alasan pembenar untuk mengakhiri kontrak,” tambahnya.

 

Komentar Pengunjung

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com