Kolom Renungan Lima Alinea – Klub Sebagai Alat Perjuangan Dan Kapitalisme

Pada 26 May 2014 13:11 WIB

Oleh: Oryza Ardiansyah

Sejarah klub-klub sepak bola Indonesia memang tak bisa dibandingkan dengan klub-klub Eropa, dan bahkan Amerika Latin sekalipun. Klub-klub Eropa, terutama Inggris, sejak awal dilahirkan memang sudah diikhtiarkan sebagai bagian dari kapitalisme. Rata-rata klub didirikan oleh seorang pengusaha dan terkait dengan sejarah industri di kota tempatnya berdomisili. Di Amerika Selatan, kultur sepakbola dibawa oleh para pengusaha dari Barat yang datang bersama pasukan asing. Sao Paolo, klub papan atas Brasil, semula dibentuk oleh seorang pengusaha perkebunan Eropa.

Memang ada klub-klub yang didirikan dengan motivasi lain, seperti sektarianisme ala Glasgow Rangers dan Glasgow Celtics di Skotlandia. Namun pada perkembangannya, klub-klub semacam itu juga dikelola secara mandiri, tanpa campur tangan negara.

Berasal dari rahim kapitalisme, klub-klub sepak bola Eropa pada akhirnya memang menjadikan laba sebagai bagian yang tak terpisahkan. Tanpa laba, klub tak akan bertahan lama, mengingat pendanaan datang dari perorangan atau kelompok usaha yang menjadi pemilik. Dan laba tak akan datang tanpa pengelolaan manajemen keuangan yang efisien, tepat sasaran, dan transparan. Di sinilah profesionalisme itu kemudian dibangun.

Sepak bola di Indonesia juga ‘dipicu’ oleh kaum kolonial Belanda. Namun berbeda dengan di tanah asalnya di Eropa, klub-klub sepakbola pribumi lahir dari rahim perlawanan. Orang-orang Belanda membentuk klub sepakbola sebagai bagian dari kesenangan, dan ‘orang-orang di negeri terjajah’ membangun klub mereka sebagai bagian dari pemberontakan.

Petilan dari buku Andrea Hirata, ‘Sebelas Patriot’, bisa menggambarkan bagaimana sepak bola menjadi bagian dari keinginan untuk tak mau tunduk. ‘Lapangan bola adalah medan pertempuran melawan penjajah… sebelas pemain, sebelas patriot berbaris tegak, tak dapat lagi ditakuti Belanda’. Saya jadi ingat pernyataan salah satu esais: manusia bisa ditundukkan, tapi semangat tak bisa dihancurkan. Namun mungkin itu akhirnya yang membuat kita menemukan kata profesional dalam sepak bola Indonesia. []

Komentar Pengunjung

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com